D'Yans 148

D'Yans 148
this Is me

Selasa, 20 Desember 2011

KONSEP PENDIDIKAN POSITIVISME


Oleh. yan setiadeni
 MAKALAH   
KONSEP PENDIDIKAN POSITIVISME
BAB I
PENDAHULUAN
1.            Latar Belakang

Dalam bidang pendidikan filsafat pendidikan menjadi azas terbaik untuk mengadakan penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh. Penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah dan institusi-institusi pendidikan.
Filsafat pendidikan dapat menjadi sandaran intelektual bagi para pendidik untuk membela tindakan-tindakan mereka dalam bidang pendidikan. Dalam hal ini juga sekaligus untuk membimbing pikiran mereka di tengah kancah pertarungan filsafat umum yang mengusasi dunia pendidikan;
Filsafat pendidikan positivisme akan membantu guru sebagai pendidik untuk pendalaman pikiran bagi penyusunan kurikulum dan pembelajaran serta pendidikan siswanya di sekolah dan mengaitkannya dengan factor-faktor spiritual, social, ekonomi, budaya dan lain-lain, dalam berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan insan yang sempurna baik lahir maupun batinnya, hal inilah yang melatarbelakangi kami untuk menyusun makalah ini.

2.            Tujuan Pembahasan
Tujuan pembahasan ini adalah :
                  1.            Agar mengetahui sejarah positivisme
                  2.            Agar mengetahui tokoh positivisme
                  3.            Agar mengetahui konsep filsafat pendidikan positivisme

3.            Rumusan Masalah
                  1.            Siapakah tokoh sekaligus pencetus filsafat positivisme ?
                  2.            Bagaimana konsep filsafat pendidikan positivisme ?



BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP PENDIDIKAN POSITIVISME
A.    SEJARAH POSITIVISME
Dua revolusi politik besar terjadi pada akhir abad XVIII yaitu revolusi di Amerika tahun 1776 dan di Perancis tahun 1789. Di samping revolusi politik tersebut, manusia mengalami revolusi yang tidak kalah penting juga di awal abad XIX yaitu revolusi sosial ekonomis terutama perkembangan industrialisasi. Aliran filsafat yang cukup kuat dalam abad ini dianut oleh orang-orang yang berpegang teguh pada ilmu pengetahuan yaitu positivisme. Positivisme berpangkal pada pandangan Immanuel Kant bahwa manusia tidak mampu untuk mengetahui realitas material selain melalui ilmu pengetahuan. Munculnya negara modern sebagai tempat penyimpanan yang kian lama kian khusus dari kekuasaan politik dan , tidak hanya menimbulkan kelas professional, dari pegawai-pegawai sipil, para cendekiawan dan lain-lain, yang secara bertahap lebih menuntut pengorganisasian sistem , susunan structural kekuasasaan yang demokratis dan disusunnya bahan secara kodifikasi dalam suatu sistem yang teratur.
Positivisme lahir dari konflik antara pemikir yang mengkonstruksikan dunia dari berbagai konsep dan ide a priori dan pemikir yang menitikberatkan pada materi atas ide. Dua kelompok pemikir itu dikenal sebagai idealis dan materialis atau metafisis versus positivis dan ontologis versus empiris. Jika ditelusuri ke filsafat Yunani Kuno, kaum idealis mengikuti jejak Plato (427-347.seb.Masehi) dan kelompok materialis melanjutkan warisan pemikiran Aristoteles (384-322.seb.Masehi).
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu – satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno .
Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realita. Ini berarti, apa yang disebut sebagai positif bertentangan dengan apa yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari apa yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan pengertian positivisme secara terminologis berarti merupakan suatu paham yang dalam ‘pencapaian kebenaran’-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Segala hal diluar itu, sama sekali tidak dikaji dalam positivisme.

Filsafat positivisme lahir pada abad ke- 19. Titik tolak pemikirannya, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan yang positif, sehingga metafisikanya ditolak. Maksud positif adalah segala gejala dan segala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman objektif. Jadi, setelah fakta diperolehnya, fakta-faata tersebut diatur maka dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi ke masa depan).(Ahmadi, Asmoro. 1994:120).
Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empiris yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Misalnya, hal panas. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya. Ukuran - ukuran tadi adalah operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat.
Positivisme mempunyai kaitan dengan rasionalisme. Comte telah merujuk pada rasonalisme yang dikembangkan oleh Descartes dan pada ilmu pengetahuan alam seperti yang dikembangkan oleh Galileo Galilei Isac Newton, dan Francis Bacon. Dua jenis ilmu pengetahuan tentang alam inilah yang merupakan model dari ilmu pengetahuan positif, yang dikembangkan oleh Comte di dalam gagasan-gagasannya mengenai positivisme. Selain dengan rasionalisme, positivisme juga berkaitan dengan empirisme.
Menurut Tafsir (2005) empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang enekankan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan. Fakta dimengerti sebagai “fenomena yang dapat diamati”, maka sebenarnya positivisme terkait erat dengan empirisme. Akan tetapi, sementara empirisme masih menerima adanya pengalaman subjektif yang bersifat rohani, positivisme menolaknya sama sekali. Yang dianggap sebagai pengetahuan sejati hanyalah pengalaman objektif yang bersifat lahiriah, yang bisa diuji secara indrawi. Karena itu, positivisme adalah ahli waris empirisme yang sudah diradikalkan dalam Pencerahan Prancis.
Menurut  Adian (2006), positivisme melembagakan pandangan objektivistik dalam suatu doktrin kesatuan ilmu (unified science). Doktrin ini mengatakan bahwa seluruh ilmu harus berada dalam payung positivistik. Doktrin ini mengajukan kriteria-kriteria bagi ilmu pengetahuan, sebagai berikut:
a.        bebas nilai
b.       menggunakan metode verifikasi-empiris
c.        bahasa yang digunakan hars analitik dan bisa diperiksa secara empiris
d.       bersifat eksplanasi

B.     TOKOH POSITIVISME
Pendiri sekaligus tokoh terpenting aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857). Auguste Comte adalah figur yang paling representatif untuk positivisme sehingga dia dijuluki Bapak Positivisme. Pada tahun terjadinya Revolusi, filsuf ini dilahirkan di kota Montpellier dari sebuah keluarga bangsawan yang beragama Katolik. Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 17 Januari 1798. Setelah menyelesaikan pendidikan di Lycee Joffre dan Universitas Montpellier.

Dalam usia 25 tahun, dia studi di Ecole Polytecnique di Paris dan sesudah dua tahun di sana dia mempelajari pikiran-pikiran kaum ideolog. Saint-Simon menerimanya sebagai sekretarisnya, dan sulit dipungkiri bahwa pemikiran Saint-Simon mempengaruhi perkembangan intelektual Comte. Mereka cocok dengan pandangan bahwa reorganisasi masyarakat bisa dilakukan dengan bantuan ilmu pengetahuan baru tentang perilaku manusia dan masyarakatnya. Akan tetapi pada tahun 1825, Comte akhirnya memutuskan untuk memisahkan diri dari Saint-Simon dan kemudian Comte menulis sebuah buku yang berjudul “Sistem Politik Positif” tahun 1825. Sebuah karya lainnya adalah Cours de Philosophia Positive (kursus tentang filsafat positif) dan berjasa dalam mencipta ilmu sosiologi.
Pada akhir hidupnya, ia berupaya untuk membangun agama baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru tanpa teologi ini menggunakan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan “Cinta sebagai prinsip, teratur sebagai basis, kemajuan sebagai tujuan”. (Ahmadi, Asmoro. 1994:121).

C.    KONSEP PENDIDIKAN POSITIVISME
Positivisme yang telah diperkenalkan oleh Auguste Comte berpandangan bahwa pengetahuan tidak boleh melebihi fakta-fakta. Dengan demikian ilmu pengetahuan empiris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Positivisme selalu mempertanyakan hakikat benda-benda atau penyebab yang sebenarnya, yang bagi positivism tidak mempunyai arti apa-apa. Positivism mengutamakan pengalaman. (Salahudi. 2011:74)
Kaum positivisme percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan metode-metode penelitian empiris yang dapat digunakan untuk menemukan hukum-hukumnya yang sudah menyebar di lingkungan intelektual. Akan tetapi kebanyakan kelompok positivis berasal dari kalangan orang yang progresif, yang tega mencampakkan tradisi irasional dan memperbarui masyarakat menurut hokum alam sehingga menjadi lebih rasional. Perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah merupakan puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis melalui ilmu-ilmu lainnya yang sudah terlalui sebelumnya.
 Bagi Comte untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat. Metode positif ini mempunyai 4 ciri, yaitu :
      1.            Metode ini diarahkan pada fakta-fakta
      2.            Metode ini diarahkan pada perbaikan terus meneurs dari syarat-syarat hidup
      3.            Metode ini berusaha ke arah kepastian
      4.            Metode ini berusaha ke arah kecermatan.

Menurut Auguste Comte, perkembangan pemikiran manusia berlangsung dalam tiga tahap, yaitu :
1.        Tahap teologis
Pada tahap ini manusia mengarahkan pandangannya kepada hakikat yang batiniah (sebab pertama). Di sini manusia percaya kepada kemungkinan adanya sesuatu yang mutlak. Artinya, dibalik setiap kejadian tersirat adanya maksud tertentu. Pada tingkatan teologis ini pola berpiktr manusia dikuasai oleh tahayul dan prasangka. Kepercayaan atas kekuatan gaib di luar manusia sangat mendasari cara berpikir manusia

Pada tahap ini, comte membaginya lagi ke dalam beberapa periode, yaitu ;
a.       Fetisisme, merupakan bentuk pemikiran yang dominan dalam masyarakat primitive, meliputi kepercayaan bahwa semua benda memiliki kelengkapan kekuatan hidupnya sendiri.
b.      Politeisme, yaitu kepercayaan akan hal supernatural yang meskipun berbeda dari benda-benda alam, terus mengontrol semua gejala alam.
c.       Monoteisme, yaitu kepercayaan akan sesuatu yang tertinggi.

2.        Tahap metafisis
Pada tahap metafisis manusia hanya sebagai tujuan pergeseran dari tahap teologis. Sifat yang khas adalah kekuatan yang tadinya bersifat adi kodrati, diganti dengan kekuatan-kekuatan yang mempunyai pengertian abstrak, yang diintegrasikan dengan alam. Artinya, pola berpikir manusia telah meninggalkan teologis, namun masih berpikir abstrak, masih mempersoalkan hakikat dan segala yang ada, termasuk hakikat yang gaib juga.

3.        Tahap ilmiah/positif
Pada tahap ini manusia telah mulai mengetahui dan sadar bahwa upaya pengenalan teologis dan metafisis tidak ada gunanya. Sekarang manusia berusaha mencari hukum-hukum yang berasal dari fakta-fakta pengamatan dengan memakai akal. Manusia membatasi dan mendasarkan pengetahuannya pada yang dapat dilihat, dapat diukur, dan dapat dibuktikan (verifiable).
Menurut Comte, kesatuan ilmu memperlihatkan hukum perkembangan intelektual yang sama, seperti yang tampak pada perkembangan melalui tiga tahap pemikiran, yaitu telogis, metafisik, dan poistif.  Adapun gagasan dasar bahwa manusia dan gejala social merupakan bagian dari alam dan dapat dianalisis dengan metode ilmu alam, memberikan suatu analisis komprehensif mengenai kesatuan filosofis dan metodologis yang menjadi dasar antara ilmu-ilmu alam dan ilmu social.
Pada dasarnya Comte menerima pandangan bahwa perkembangan pemikiran manusia berawal dari mitologi dan kepercayaan masyarakat terhadap nilai-nilai mitologis. Manusia tidak secara langsung berpikir rasional  dan serba positif, melainkan melalui tahap-tahgap yang sistematis.
a.       Pada tahap pertama, seluruh pandangan akal budi, kepercayaan, dan keyakinan manusia dibentuk oleh cara berpikir metafisik yang disebut sebagai pemikiran irasional manusia terhadap berbagai realitas yang dilaluinya dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Tahap kedua, yaitu manusia senantiasa melibatkan gejala alam dan realitas kehidupan dengan pemahaman teologis yang membentuk keyakinan terhadap keberadaanpara dewa, Tuhan, dan Dzat yang Mahakuat dan menguasai kehidupan manusia dengan seluruh alam yang ada.
c.       Tahap ketiga, manusia menuju dan menunjukkan pemahaman rasional tentang keberadaan sesuatu yang benar-benar ada, yaitu yang dibatasi oleh lingkaran empiris dan serba realistic.
Dalam Filsafat positivisme pengalaman dengan teori berjalan seiring. Bagi Comte pengamatan tidak mungkin dilakukan tanpa melakukan penafsiran atas dasar sebuah teori dan pengamatan juga tidak mungkin dilakukan secara terisolasi, dalam arti harus dikaitkan dengan suatu teori. Metode positif Auguste Comte juga menekankan pandangannya pada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Baginya persoalan filsafat yang penting bukan masalah hakikat atau asal mula pertama dan tujuan akhir gejala-gejala., melainkan hubungan antara gejala yang satu denga gejala yang lain. (Misnal Munir.2000:87).
Filsafat Auguste Comte terutama penting sebagai pencipta ilmu sosiologi. Kebanyakan konsep, prinsip, metode yang dipakai dalam sosiologi, berasal dari Comte. Comte membagi masyarakat atas ”statistika sosial”. Statistika Sosial adalah teori tentang susunan masyarakat, sedangkan dinamika social adalah teori tentang perkembangan dan kemajuan. Sosiologi ini sekaligus suatu filsafat sejarah karena Comte memberikan tempat kepada fakta-fakta individual sejarah dalam suatu teori umum. Sehingga terjadi sintesis yang menerangkan fakta-fakta itu. Fakta itu dapat bersifat politik, yuridis, ilmiah, tetapi juga falsafi, religius dan cultural.
Auguste Comte mengakhiri pemahamannya dengan pandangan positivistic bahwa semua yang ada harus empiris, realistic, dan ilmiah. Jika keluar dari persyaratan itu, hal tersebut tidak dinamakan dengan eksistensi. Manusia yang meyakini keberadaan yang tidak nyata adalah manusia yang rasionalnya masih dijajah oleh pemahaman mitologis atau metafisik., sementara pemahaman teologis bersifat spekulatif yang merupakan masa pencarian kebenaran manusia. Manusia pada akhirnya akan mengakui bahwa yang benar adalah yang positif, factual, dan realistis.
Pandangan dan penemuan ilmiah manusia mengenai alam jagat raya ini telah mendorong lahirnya filsafat pendidikan berbasis positivism. Pendidikan di arahkan pada suatu tujuan yang realistic. Pengembangan kurikulum ditekankan pada suatu proses penciptaan anak didik yang rasional dan empiris. Masyarakat harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung pada mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membuata masyarakat bodoh. Kehidupan bergantung pada kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Oleh karena itu masyarakat harus melihat pengetahuan dengan memperdalam pendidikan yang empiris dan realistic. Pendidikan harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan indrawi. (Shalahudin.2011;83).


BAB III
SIMPULAN

Pendiri sekaligus tokoh terpenting aliran positivisme adalah Auguste Comte (1798-1857). Auguste Comte adalah figur yang paling representatif untuk positivisme sehingga dia dijuluki Bapak Positivisme.
Pandangan dan penemuan ilmiah manusia mengenai alam jagat raya ini telah mendorong lahirnya filsafat pendidikan berbasis positivism. Pendidikan di arahkan pada suatu tujuan yang realistic. Pengembangan kurikulum ditekankan pada suatu proses penciptaan anak didik yang rasional dan empiris. Masyarakat harus menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan tidak bergantung pada mitos dan berbagai legenda karena semua itu akan membuata masyarakat bodoh. Kehidupan bergantung pada kebutuhan yang nyata, pasti, dan rasional. Oleh karena itu masyarakat harus melihat pengetahuan dengan memperdalam pendidikan yang empiris dan realistic. Pendidikan harus berbasis pada penelitian dan kebenaran yang pasti dan indrawi.                     









DAFTAR PUSTAKA

    1.          Saebani, Ahmad. 2009. Filsafat Ilmu. Bandung : Pustaka Setia
    2.          MUnir, Misnal. 2000.Filsafat ILmu. Yogyakarta : PUstaka Pelajar
    3.          Achmadi, Asmoro. 1994. Filsafat Umum. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
    4.          Salahudin, Anas. 2011. Filsafat Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar